Keterpisahan PMII dari NU pada perkembangan terakhir ini lebih tampak hanya
secara organisatoris formal saja. Sebab kenyataannya, keterpautan moral,
kesamaan background, pada hakekat keduanya susah untuk direnggangkan. Tak dapat
dipungkiri, bila dilihat dari akar historitas, kelahiran PMII tak bisa
dipisahkan dari lingkup NU. Meskipun PMII pernah menyatakan independen tehadap
NU, tetapi pada hakikatnya landasan ideologi ahlussunnah wal jama’ah (Aswaja)
yang diusung PMII masih selaras dengan landasan ideologi NU. Lebih dari itu,
hubungan PMII dengan NU merupakan relasi strategis, bukan semata-mata karena ikatan
teologis dan kultural, melainkan karena secara sosio-ekonomi dan sosio-politik,
antara PMII dengan NU memiliki banyak kesamaan. Selain itu tidak boleh
diingkari bahwa pada hakikatnya titik keberangkatan PMII adalah dari akar NU.
http://i1285.photobucket.com/albums/a585/pmiitebou23/CIMG2674_zps9064cc89.jpg
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
Tampilkan postingan dengan label PC PMII. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PC PMII. Tampilkan semua postingan
Senin, 08 Oktober 2012
Sejarah PMII Dalam Kepemudaan dan Penyelamatan HMI
22.39
PC PMII
PMII Sebagai organisasi mahasiswa yang juga berdimensi
kepemudaan, maka aktivitas-aktivitas yang dilakukan disamping di dunia
kemahasiswaan juga dunia kepemudaan. Aktivitas PMII yang patut dicatat disini
antara kurun waktu 1965 – 1968, hal ini penting karena berkaitan dengan
lahirnya angkatan baru dalam dunia kepemudaan di Indonesia, yang akhirnya angkatan
ini dikenal dengan istilah “ANGKATAN 66”.Kelahiran angkatan 66 ini merupakan
reaksi terhadap kebijaksanaan Presiden Soekarnoe yang membiarkan PKI dan
antek-anteknya tetap hidup di Bumi Pertiwi ini, kendatipun PKI melakukan makar
dengan melakukan gerakan 30 September. Ketidakmampuan pemerintah Orde Lama
untuk mengambil tindakan tegas terhadap PKI ini, mungkin dikarenakan
kekhawatiran rezim Soekarnoe akan reaksi pemeritah Komunis Cina yang merupakan
pendukung utama dalam menghadapi politik konfrontasi dengan Malaysia dan
negara-negara barat lainnya. Tetapi tindakan rezim Orde Lama yang seperti ini
berakibat fatal, dengan semakin banyaknya rakyat yang tidak puas terhadap rezim
Soekarnoe, terutama mereka yang dulu sering difitnah oleh PKI serta antek-anteknya.
Keadaan yang demikian itu semakin diperburuk oleh ketidak mampuan rezim Orde
Lama dalam menangani persoalan ekonomi, disamping ketidakmampuan lembaga
Legeslatif menjalankan fungsi kontrolnya terhadap penyimpangan-penyimpangan
yang dilakukan pemerintah Orde Lama.
Kilas Balik Sejarah PMII
22.38
PC PMII
PMII adalah
bagian dari sejarah Indonesia. Mulai dari awal proses kemunculannya, proses
lahirnya sampai proses perjalanannya hingga sekarang, PMII telah menjadi saksi
dari sejarah perjalanan Indonesia.
Selain itu,
PMII juga sejarah bagi dirinya sendiri. PMII pernah jaya dan pernah terpuruk.
PMII pernah bersitegang akibat perdebatan tentang politik praksis dan PMII
pernah ditendang dari wilayah strategis. Semua itu bagian dari sejarah yang tak
terpisahkan dari perjalanan PMII.
Dalam proses
pemunculannya, PMII tidak bisa dipisahkan dari kondisi sosial politik tahun
1950-an. Ketika itu, telah muncul organisasi-organisasi kepemudaan seperti HMI
(ketika itu underbow Masyumi) SEMMI (dengan PSII) KMI (dengan PERTI) IMM
(dengan Muhammadiyah) dan HIMMA (dengan Wasillah).
Dibawah ini
adalah beberapa hal yang dapat dikatakan sebagai penyebab berdirinya PMII:
1.
Carut marutnya situasi politik bangsa indonesia dalam
kurun waktu 1950-1959.
2.
Tidak menentunya sistem pemerintahan dan
perundang-undangan yang ada.
3.
Pisahnya
NU dari Masyumi.
Hal itupun
membuat anak-anak NU ingin mendirikan wadah yang bernaung di bawah panji bola
dunia. Akhirnya, pada tahun 1955 di dirikanlah IMANU (Ikatan Mahasiswa NU) oleh
tokoh-tokoh PP-IPNU. Namun, IMANU tidak berumur panjang. Sebab, PBNU tidak
merestui dengan alasan yang sangat logis: “IPNU didirikan baru tanggal 24
Februari 1954 dan dengan pertimbangan waktu, pembagian tugas dan efektifitas
organisasi”.
Tetapi sampai
pada Kongres IPNU ke 2 (Awal 1957 di pekalongan)dan ke 3 (akhir 1958 di
Cirebon) NU masih memandang belum perlu adanya organisasi kemahasiswaan. Baru
kemudian pada tahun 1959 IPNU membuat departemen yang kemudian dikenal
dengan Departemen Perguruan Tinggi IPNU. Satu tahun kemudian setelah
Departemen Perguruan Tinggi IPNU ini dianggap tidak efektif dan tidak cukup
menampung aspirasi mahasiswa NU, maka pada Konprensi Besar IPNU (14-16 Maret
1960) di Kaliurang sepakat mendirikan organisasi tersendiri.
Rekomendasi ini
dimanfaatkan dengan baik oleh 13 tokoh, yakni; Chalid Mawardi (Jakarta), Said
Budairy (Jakarta), M. Shabih ubaid (Jakarta), Makmun Syukri BA. (Bandung),
Hilman (Bandung), H. Ismail Makky (Yogyakarta), Munsif Nachrawi (Yogyakarta),
Nurilhuda Suady HA. (Surakarta), Laily Mansyur (Surakarta), Abdul Wahab
Djailani (semarang), Hisbullah Huda (Surabaya), M. Chalid Marbuko (Malang), dan
Ahmad Husein (Makasar). Pada tanggal 14-16 April 1960, mereka menggodok organ
baru di TPP Khadijah Surabaya. Akhirnya, tanggal 17 April 1960 lahirlah
organisasi mahasiswa NU yang diberi nama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia
(PMII).
Tidak berselang
lama, tahun 1961 PMII melaksanakan Kongres I di Tawangmangu, Solo yang
menghasilkan deklarasi Tawangmangu. Dari sini dimulailah kiprah PMII dalam
percaturan nasional. Tahun 1963 kongres ke-2 PMII digelar di Yogyakarta.
Kongres ini menegaskan kembali esensi Deklarasi Tawangmangu yang dikenal dengan
Penegasan Yogyakarta. Tahun 1965 PMII mengadakan TC II di Megamendung, Bogor
untuk menyikapi problem kehidupan masyarakat dan negara.
Pada masa ini,
terjadi gejolak yang mempengaruhi situasi nasional. Mahasiswa menyikapinya
dengan berbagai aksi dengan berbagai organ taktis seperti KAMI dan KAPPI. Dalam
proses ini, PMII mengambil tempat terdepan. Bahkan, Ketua Umum PB PMII, Zamroni
menjadi ketua KAMI/KAPPI dari awal sampai akhir berdirinya.
Dalam
perjalanan selanjutnya, PMII merasa tidak strategis dan mengalami keterbatasan
langkah di bawah naungan NU –ketika itu berfusi ke PPP. Maka pada tahun 1972,
PMII mendeklarasikan Independensi dari NU dalam ajang Munas di Murnajati.
Deklarasi ini terkenal dengan Deklarasi Murnajati. Adapun tim perumus Deklarasi
Murnajati adalah; Umar Basalin (Bandung), Madjidi Syah (Bandung), Slamet Efendi
Yusuf (Yogyakarta), Man Muhammad Iskandar (Bandung), Choirunnisa’
Yafizhan (medan), Tatik Farikhah (Surabaya), Rahman indrus dan Muiz Kabri
(Malang).
Kiprah PMII
pasca independen tidak banyak terekam, karena minimnya dokumen, termasuk posisi
PMII ketika kasus Malari. Tetapi yang jelas, ketika rezim orde baru berkuasa,
PMII dipinggirkan dan dibatasi perannya. Kemudian, PMII berusaha mengambil
langkah-langkah strategis untuk menunjukkan eksistensi dan kiprahnya. Baru
tahun 1989 PMII melakukan Penegasan Cibogo (Kongres Medan) dan merevisi pola
hubungan NU-PMII dengan pola interdependensi. Deklarasi Interdependensi
terjadi ketika Kongres X PMII di Pondok Gede, Jakarta, tahun 1991. Setelah itu,
PMII terlibat dengan berbagai gerakan, termasuk gerakan Reformasi tahun 1998
dengan terang-terangan atau masuk ke dalam organ-organ gerakan taktis.
Kumpulan
serpihan sejarah PMII menjadi penting sebagai cermin bagi kita untuk
mengayunkan langkah ke arah yang lebih baik. Sehingga, kader PMII tidak
mengalami disorientasi dan kegagapan dalam menghadapi perubahan. Apalagi,
tradisi dokumentasi dirasakan sangat minim di PMII. Dalam buku-buku sejarah
gerakan mahasiswapun, PMII jarang disebut. Disamping
itu, para founding fathers PMII, satu per satu meninggal dunia, seperti
Mahbub Junaidi, Zamroni dll.
Sumber :
a.
Effendi Choirie dan Choirul Anam (1991), Pemikiran
PMII dalam berbagai Persepsi,Surabaya, AULA NU.
b.
Mahbub Djunaidi dalam pengantar Effendi Choirie dan
Choirul Anam (1991), Pemikiran PMII dalam berbagai Persepsi,
Surabaya, AULA NU
c.
Hasil wawancara dengan Fauzan Alfas (Alumni PMII Malang)
d.
Hasil wawancara dengan Slamet Effendi Yusuf (Alumni PMII
Yogyakarta, Deklarator Independensi PMII di Murnajati dan sekarang Ketua DPP
Golkar dan Ketua Pelaksana Konvensi Calon Presiden Golkar).
Para Ketua Umum PB PMII dari masa ke masa :
-
(Alm)
Mahbub Djunaidi (1960-1961)
-
(Alm)
Mahbub Djunaidi (1961-1963)
-
(Alm)
Mahbub Djunaidi (1963-1967)
-
(Alm) M.
Zamroni, BA (1967-1970)
-
(Alm) Drs.
M. Zamroni, (1970-1973)
-
Drs. Abduh
Paddere (1973-1977)
-
Ahmad
Bagdja (1977-1981)
-
Muhyiddin
Arubusman (1981-1985)
-
Iqbal
Assegaf (1985-1989)
-
Ali
Masykur Moesa (1989-1994)
-
Muhaimin
Iskandar (1994-1997)
-
Saiful
Bahri Anshori (1997-2000)
-
Nusron
Wahid (2000-2003)
-
Malik
Haramain (2003-2005)
ARTI LAMBANG
22.37
PC PMII
ARTI LAMBANG
Pencipta
Lambang: H. Said Budairi
Bentuk
- Perisai
berati Ketahanan dan keampuhan mahasiswa Islam terhadap berbagai tantangan dan
pengaruh dari luar.
- Bintang
adalah melambang ketinggian dan semangat cita-cita yang selalu memancar.
- 5 (Lima), bintang
sebelah atas menggambarkan Rasulullah SAW dengan
empat sahabat terkemuka (Khulafaur Rasyidin).
- 4 (Empat), bintang
sebelah bawah menggambarkan empat mazhab yang
berhaluan Ahlusunnah Wal-jama’ah.
- 9 (Sembilan), bintang
sebagai jumlah bintang dalam lambang dapat berati ganda, yakni :
Rasulullah
dan empat orang sahabat serta empat orang imam mazhab itu laksana bintang yang
selalu bersinar cemerlang, mempunyai kedudukan tinggi dan penerang umat
manusia.
Sembilan orang pemuka penyebar Agama Islam di Indonesia yang disebut WALI SONGO.
Sembilan orang pemuka penyebar Agama Islam di Indonesia yang disebut WALI SONGO.
Warna
- Biru,
sebagaimana lukisan PMII, berati kedalaman ilmu pengetahuan yang harus dimiliki
dan digali oleh warga pergerakan. Biru juga menggambarkan lautan Indonesia yang
mengelilingi kepulauan Indonesia dan merupakan kesatuan Wawasan Nusantara.
- Biru Muda,
sebagaimana warna dasar perisai sebelah bawah, berati ketinggian ilmu
pengetahuan, budi pekerti dan taqwa.
- Kuning,
sebagaimana warna dasar perisai-perisai sebelah bawah, berati identitas
kemahasiswaan yang menjadi sifat dasar pergerakan lambang kebesaran dan
semangat yang selalu menyala serta penuh harapan menyongsong masa depan.
---
DEKLARASI
Pada
tanggal 14-16 April 1960 diadakan musyawarah mahasiswa NU yang bertempat di
Sekolah Mu’amalat NU Wonokromo, Surabaya. Peserta musyawarah adalah perwakilan
mahasiswa NU dari Jakarta, Bandung, Semarang, Surakarta, Yogyakarta, Malang,
Surabaya, dan Makassar, serta perwakilan senat Perguruan Tinggi yang bernaung
dibawah NU. Pada saat tu diperdebatkan nama organisasi yang akan didirikan.
Dari Yogyakarta mengusulkan nama Himpunan atau Perhimpunan Mahasiswa Sunny.
Dari Bandung dan Surakarta mengusulkan nama PMII. Selanjutnya nama PMII yang
menjadi kesepakatan. Namun kemudian kembali dipersoalkan kepanjangan dari ‘P’
apakah perhimpunan atau persatuan. Akhirnya disepakati huruf "P"
merupakan singkatan dari Pergerakan sehingga PMII menjadi “Pergerakan Mahasiswa
Islam Indonesia”. Musyawarah juga menghasilkan susunan Anggaran Dasar/Anggaran
Rumah Tangga organisasi serta memilih dan menetapkan sahabat Mahbub Djunaidi
sebagai ketua umum, M. Khalid Mawardi sebagai wakil ketua, dan M. Said Budairy
sebagai sekretaris umum. Ketiga orang tersebut diberi amanat dan wewenang untuk
menyusun kelengkapan kepengurusan PB PMII. Adapun PMII dideklarasikan secara
resmi pada tanggal 17 April 1960 masehi atau bertepatan dengan tanggal 17
Syawwal 1379 Hijriyah.SEMUA itu berkat IPNU
INDEPENDENSI PMII
Pada
awal berdirinya PMII sepenuhnya berada di bawah naungan NU. PMII terikat dengan
segala garis kebijaksanaan organisasi induknya, NU. PMII merupakan perpanjangan
tangan NU, baik secara struktural maupun fungsional. Selanjuttnya sejak
dasawarsa 70-an, ketika rezim neo-fasis Orde Baru mulai mengkerdilkan fungsi
partai politik, sekaligus juga penyederhanaan partai politik secara kuantitas,
dan issue back to campus serta organisasi- organisasi profesi kepemudaan mulai
diperkenalkan melalui kebijakan NKK/BKK, maka PMII menuntut adanya pemikiran
realistis. 14 Juli 1971 melalui Mubes di Murnajati, PMII mencanangkan
independensi, terlepas dari organisasi manapun (terkenal dengan Deklarasi
Murnajati). Kemudian pada kongres tahun 1973 di Ciloto, Jawa Barat,
diwujudkanlah Manifest Independensi PMII.
Namun,
betapapun PMII mandiri, ideologi PMII tidak lepas dari faham Ahlussunnah wal
Jamaah yang merupakan ciri khas NU. Ini berarti secara kultural- ideologis,
PMII dengan NU tidak bisa dilepaskan. Ahlussunnah wal Jamaah merupakan benang
merah antara PMII dengan NU. Dengan Aswaja PMII membedakan diri dengan organisasi
lain.
Keterpisahan
PMII dari NU pada perkembangan terakhir ini lebih tampak hanya secara
organisatoris formal saja. Sebab kenyataannya, keterpautan moral, kesamaan
background, pada hakekat keduanya susah untuk direnggangkan.
MAKNA FILOSOFIS PMII
Dari
namanya PMII disusun dari empat kata yaitu “Pergerakan”, “Mahasiswa”, “Islam”,
dan “Indonesia”. Makna “Pergerakan” yang dikandung dalam PMII adalah dinamika
dari hamba (makhluk) yang senantiasa bergerak menuju tujuan idealnya memberikan
kontribusi positif pada alam sekitarnya. “Pergerakan” dalam hubungannya dengan
organisasi mahasiswa menuntut upaya sadar untuk membina dan mengembangkan
potensi ketuhanan dan kemanusiaan agar gerak dinamika menuju tujuannya selalu
berada di dalam kualitas kekhalifahannya.
Pengertian
“Mahasiswa” adalah golongan generasi muda yang menuntut ilmu di perguruan
tinggi yang mempunyai identitas diri. Identitas diri mahasiswa terbangun oleh
citra diri sebagai insan religius, insan dimnamis, insan sosial, dan insan
mandiri. Dari identitas mahasiswa tersebut terpantul tanggung jawab keagamaan,
intelektual, sosial kemasyarakatan, dan tanggung jawab individual baik sebagai
hamba Tuhan maupun sebagai warga bangsa dan negara.
“Islam”
yang terkandung dalam PMII adalah Islam sebagai agama yang dipahami dengan haluan/paradigma ahlussunah wal jama’ah
yaitu konsep pendekatan terhadap ajaran agama Islam secara proporsional antara
iman, islam, dan ikhsan yang di dalam pola pikir, pola sikap, dan pola
perilakunya tercermin sikap-sikap selektif, akomodatif, dan integratif. Islam terbuka,
progresif, dan transformatif demikian platform PMII, yaitu Islam yang terbuka,
menerima dan menghargai segala bentuk perbedaan. Keberbedaan adalah sebuah
rahmat, karena dengan perbedaan itulah kita dapat saling berdialog antara satu
dengan yang lainnya demi mewujudkan tatanan yang demokratis dan beradab
(civilized).
Senin, 14 November 2011
VISI & MISI
Visi
Dikembangkan dari dua landasan utama, yakni visi ke-Islaman dan visi kebangsaan. Visi ke-Islaman yang dibangun PMII adalah visi ke-Islaman yang inklusif, toleran dan moderat. Sedangkan visi kebangsaan PMII mengidealkan satu kehidupan kebangsaan yang demokratis, toleran, dan dibangun di atas semangat bersama untuk mewujudkan keadilan bagi segenap elemen warga-bangsa tanpa terkecuali.
Dikembangkan dari dua landasan utama, yakni visi ke-Islaman dan visi kebangsaan. Visi ke-Islaman yang dibangun PMII adalah visi ke-Islaman yang inklusif, toleran dan moderat. Sedangkan visi kebangsaan PMII mengidealkan satu kehidupan kebangsaan yang demokratis, toleran, dan dibangun di atas semangat bersama untuk mewujudkan keadilan bagi segenap elemen warga-bangsa tanpa terkecuali.
Misi
Merupakan manifestasi dari komitmen ke-Islaman dan ke-Indonesiaan, dan sebagai perwujudan kesadaran beragama, berbangsa, dan bernegara. Dengan kesadaran ini, PMII sebagai salah satu eksponen pembaharu bangsa dan pengemban misi intelektual berkewajiban dan bertanggung jawab mengemban komitmen ke-Islaman dan ke-Indonesiaan demi meningkatkan harkat dan martabat umat manusia dan membebaskan bangsa Indonesia dari kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan baik spiritual maupun material dalam segala bentuk.
PROFIL PMII
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia merupakan salah satu organisasi kemahasiswaan yang bersandar atas komitmen keislaman dan keindonesiaan. PMII didirikan di Surabaya pada tanggal 21 syawal 1379 H beretepatan dengan 17 April 1960. Kini PMII telah memiliki lebih dari 200 Cabang yang tersebar di seluruh penjuru Nusantara.
PMII memusatkasn kegiatannya pada dunia kampus yang berorientasi pada :
- Pengembangan Intelektualisme;
- Pemberdayaan CIVIL SOCIETY;
- Mengembangkan paradigma kritisme terhadap negara.
Sebagai sebuah organisasi islam. PMII berpandangan bahwa nilai-nilai keislaman (religionitas) dan keindonesiaan (nation state) merupakan perwujudan kesadaran seagai insan muslim Indonesia. Sedangkan kerangka keagamaan berdasarkan atas nilai keadilan, kebenaran, toleransi, moderat dan kemanusiaan.
PMII memang dirancang sebagai organ/instrumen perubahan sosial (social change). Secara individual, PMII menawarkan Liberasi dari segala hegemoni dan dominasi ideologi, Ide maupun gagasan. Secara kelembagaan, PMII adalah barisan intelktual muda yang menawarkan beragam format gerakan mulai dari keislaman, kebudayaan pers, wacana, ekonomi, hingga gerakan massa. PMII cukup mewadahi pluralitas potensi, minat dan kecenderungan otentitas individu. Ingat, masuk menjadi anggota PMII harus dilatarbelakangi dengan sebuah kesadaran sosial dan bukan sekedar untuk membunuh waktu.
Tujuan
PMII bertujuan untuk mendidik kader-kader bangsa dan membentuk pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa Kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, terampil, cerdas dan siap mengamalkan ilmu pengetahuannya dengan penuh tanggung jawab. PMII dalam sejarahnya merupakan pelopor, pembaharu dan pengemban amanat intelektual dalam meningkatkan harkat martabat bangsa Indonesia.
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) merupakan salah satu elemen mahasiswa yang terus bercita-cita mewujudkan Indonesia ke depan menjadi lebih baik. PMII berdiri tanggal 17 April 1960 dengan latar belakang situasi politik tahun 1960-an yang mengharuskan mahasiswa turut andil dalam mewarnai kehidupan sosial politik di Indonesia. Pendirian PMII dimotori oleh kalangan muda NU (meskipun di kemudian hari dengan dicetuskannya Deklarasi Murnajati 14 Juli 1972, PMII menyatakan sikap independen dari lembaga NU). Di antara pendirinya adalah Mahbub Djunaidi dan Subhan ZE (seorang jurnalissekaligus politikus legendaris).
Sejarah
Latar belakang pembentukan PMII
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) lahir karena menjadi suatu kebutuhan dalam menjawab tantangan zaman. Berdirinya organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia bermula dengan adanya hasrat kuat para mahasiswa NU untuk mendirikan organisasi mahasiswa yang berideologi Ahlusssunnah wal Jama'ah. Dibawah ini adalah beberapa hal yang dapat dikatakan sebagai penyebab berdirinya PMII:
- Carut marutnya situasi politik bangsa indonesia dalam kurun waktu 1950-1959.
- Tidak menentunya sistem pemerintahan dan perundang-undangan yang ada.
- Pisahnya NU dari Masyumi.
- Tidak enjoynya lagi mahasiswa NU yang tergabung di HMI karena tidak terakomodasinya dan terpinggirkannya mahasiswa NU.
- Kedekatan HMI dengan salah satu parpol yang ada (Masyumi) yang nota bene HMI adalah underbouw-nya.
Hal-hal tersebut diatas menimbulkan kegelisahan dan keinginan yang kuat dikalangan intelektual-intelektual muda NU untuk mendirikan organisasi sendiri sebagai wahana penyaluran aspirasi dan pengembangan potensi mahasiswa-mahsiswa yang berkultur NU. Disamping itu juga ada hasrat yang kuat dari kalangan mahsiswa NU untuk mendirikan organisasi mahasiswa yang berideologi Ahlussunnah Wal Jama'ah.
Organisasi-organisasi pendahulu
Di Jakarta pada bulan Desember 1955, berdirilah Ikatan Mahasiswa Nahdlatul Ulama (IMANU) yang dipelopori oleh Wa'il Harits Sugianto.Sedangkan di Surakarta berdiri KMNU (Keluarga Mahasiswa Nahdhatul Ulama) yang dipelopori oleh Mustahal Ahmad. Namun keberadaan kedua organisasi mahasiswa tersebut tidak direstui bahkan ditentang oleh Pimpinan Pusat IPNU dan PBNU dengan alasan IPNU baru saja berdiri dua tahun sebelumnya yakni tanggal 24 Februari 1954 di Semarang. IPNU punya kekhawatiran jika IMANU dan KMNU akan memperlemah eksistensi IPNU.
Gagasan pendirian organisasi mahasiswa NU muncul kembali pada Muktamar II IPNU di Pekalongan (1-5 Januari 1957). Gagasan ini pun kembali ditentang karena dianggap akan menjadi pesaing bagi IPNU. Sebagai langkah kompromis atas pertentangan tersebut, maka pada muktamar III IPNU di Cirebon (27-31 Desember 1958) dibentuk Departemen Perguruan Tinggi IPNU yang diketuai oleh Isma'il Makki (Yogyakarta). Namun dalam perjalanannya antara IPNU dan Departemen PT-nya selalu terjadi ketimpangan dalam pelaksanaan program organisasi. Hal ini disebabkan oleh perbedaan cara pandang yang diterapkan oleh mahasiswa dan dengan pelajar yang menjadi pimpinan pusat IPNU. Disamping itu para mahasiswa pun tidak bebas dalam melakukan sikap politik karena selalu diawasi oleh PP IPNU.
Konferensi Besar IPNU
Oleh karena itu gagasan legalisasi organisasi mahasiswa NU senantisa muncul dan mencapai puncaknya pada konferensi besar (KONBES) IPNU I di Kaliurang pada tanggal 14-17 Maret 1960. Dari forum ini kemudian kemudian muncul keputusan perlunya mendirikan organisasi mahasiswa NU secara khusus di perguruan tinggi. Selain merumuskan pendirian organ mahasiswa, KONBES Kaliurang juga menghasilkan keputusan penunjukan tim perumus pendirian organisasi yang terdiri dari 13 tokoh mahasiswa NU. Mereka adalah:
- A. Khalid Mawardi (Jakarta)
- M. Said Budairy (Jakarta)
- M. Sobich Ubaid (Jakarta)
- Makmun Syukri (Bandung)
- Hilman (Bandung)
- Ismail Makki (Yogyakarta)
- Munsif Nakhrowi (Yogyakarta)
- Nuril Huda Suaidi (Surakarta)
- Laily Mansyur (Surakarta)
- Abd. Wahhab Jaelani (Semarang)
- Hizbulloh Huda (Surabaya)
- M. Kholid Narbuko (Malang)
- Ahmad Hussein (Makassar)
Keputusan lainnya adalah tiga mahasiswa yaitu Hizbulloh Huda, M. Said Budairy, dan Makmun Syukri untuk sowan ke Ketua Umum PBNU kala itu, KH. Idham Kholid.
Deklarasi
Pada tanggal 14-16 April 1960 diadakan musyawarah mahasiswa NU yang bertempat di Sekolah Mu’amalat NU Wonokromo, Surabaya. Peserta musyawarah adalah perwakilan mahasiswa NU dari Jakarta, Bandung, Semarang,Surakarta, Yogyakarta, Surabaya, dan Makassar, serta perwakilan senat Perguruan Tinggi yang bernaung dibawah NU. Pada saat tu diperdebatkan nama organisasi yang akan didirikan. Dari Yogyakarta mengusulkan nama Himpunan atau Perhimpunan Mahasiswa Sunny. Dari Bandung dan Surakarta mengusulkan nama PMII. Selanjutnya nama PMII yang menjadi kesepakatan. Namun kemudian kembali dipersoalkan kepanjangan dari ˜P" apakah perhimpunan atau persatuan. Akhirnya disepakati huruf "P" merupakan singkatan dari Pergerakan sehingga PMII menjadi “Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia. Musyawarah juga menghasilkan susunan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga organisasi serta memilih dan menetapkan sahabat Mahbub Djunaidi sebagai ketua umum, M. Khalid Mawardi sebagai wakil ketua, dan M. Said Budairy sebagai sekretaris umum. Ketiga orang tersebut diberi amanat dan wewenang untuk menyusun kelengkapan kepengurusan PB PMII. Adapun PMII dideklarasikan secara resmi pada tanggal 17 April 1960 masehi atau bertepatan dengan tanggal 17 Syawwal 1379 Hijriyah.
Independensi PMII
Pada awal berdirinya PMII sepenuhnya berada di bawah naungan NU. PMII terikat dengan segala garis kebijaksanaan partai induknya, NU. PMII merupakan perpanjangan tangan NU, baik secara struktural maupun fungsional. Selanjuttnya sejak dasawarsa 70-an, ketika rezim neo-fasis Orde Baru mulai mengkerdilkan fungsi partai politik, sekaligus juga penyederhanaan partai politik secara kuantitas, dan issue back to campus serta organisasi- organisasi profesi kepemudaan mulai diperkenalkan melalui kebijakan NKK/BKK, maka PMII menuntut adanya pemikiran realistis. 14 Juli 1971 melalui Mubes di Murnajati, PMII mencanangkan independensi, terlepas dari organisasi manapun (terkenal dengan Deklarasi Murnajati). Kemudian pada kongres tahun 1973 di Ciloto, Jawa Barat, diwujudkanlah Manifest Independensi PMII.
Namun, betapapun PMII mandiri, ideologi PMII tidak lepas dari faham Ahlussunnah wal Jamaah yang merupakan ciri khas NU. Ini berarti secara kultural- ideologis, PMII dengan NU tidak bisa dilepaskan. Ahlussunnah wal Jamaah merupakan benang merah antara PMII dengan NU. Dengan Aswaja PMII membedakan diri dengan organisasi lain.
Keterpisahan PMII dari NU pada perkembangan terakhir ini lebih tampak hanya secara organisatoris formal saja. Sebab kenyataannya, keterpautan moral, kesamaan background, pada hakekat keduanya susah untuk direnggangkan.
Makna Filosofis
Dari namanya PMII disusun dari empat kata yaitu Pergerakan, Mahasiswa, Islam, dan Indonesia. Makna Pergerakan yang dikandung dalam PMII adalah dinamika dari hamba (makhluk) yang senantiasa bergerak menuju tujuan idealnya memberikan kontribusi positif pada alam sekitarnya. “Pergerakan†dalam hubungannya dengan organisasi mahasiswa menuntut upaya sadar untuk membina dan mengembangkan potensi ketuhanan dan kemanusiaan agar gerak dinamika menuju tujuannya selalu berada di dalam kualitas kekhalifahannya.
Pengertian Mahasiswa adalah golongan generasi muda yang menuntut ilmu di perguruan tinggi yang mempunyai identitas diri. Identitas diri mahasiswa terbangun oleh citra diri sebagai insan religius, insan dimnamis, insan sosial, dan insan mandiri. Dari identitas mahasiswa tersebut terpantul tanggung jawab keagamaan, intelektual, sosial kemasyarakatan, dan tanggung jawab individual baik sebagai hamba Tuhan maupun sebagai warga bangsa dan negara.
Islam yang terkandung dalam PMII adalah Islam sebagai agama yang dipahami dengan haluan/paradigma ahlussunah wal jama'ah yaitu konsep pendekatan terhadap ajaran agama Islam secara proporsional antara iman, islam, dan ikhsan yang di dalam pola pikir, pola sikap, dan pola perilakunya tercermin sikap-sikap selektif, akomodatif, dan integratif. Islam terbuka, progresif, dan transformatif demikian platform PMII, yaitu Islam yang terbuka, menerima dan menghargai segala bentuk perbedaan. Keberbedaan adalah sebuah rahmat, karena dengan perbedaan itulah kita dapat saling berdialog antara satu dengan yang lainnya demi mewujudkan tatanan yang demokratis dan beradab (civilized).
Sedangkan pengertian Indonesia adalah masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia yang mempunyai falsafah dan ideologi bangsa (Pancasila) serta UUD 45.
Langganan:
Postingan (Atom)












