Kamis, 24 November 2011

MAKALAH KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN (PENGARUH PENDIDIKAN AGAMA DISEKOLAH TERHADAP KEHIDUPAN REMAJA )

BAB I
PENDAHULUAN


  1. LATAR BELAKANG

            Dalam dunia remaja saat memasuki usia 17 tahun, maka cita – cita ,angan dan ide bermunculan, dilain waktu cita – cita seorang remaja kadang- kadang masuk akal bila hal tersebut sesuai dengan situiasi dan kondisi yang bersangkutan. Disamping itu juga remaja seringkali menggantungkan cita-citanya setinggi langit sementara ia tidak menengok situasi dan kondisi yang ada serta mempunyai angan – angan yang muluk yang tersimpan dalam hatinya,maka angan –angan tersebut tinggal angan semata,sementara dirinya juga telah menjadi pelamun yang ulung artinya suka melamun sesuatu yang tidak akan pernah terjadi pada dirinya sendiri.
Selanjutnya disisi lain remaja mempunyai ketertarikan dengan lawan jenisnya, maka mulailah seorang laki – laki mempunyai keberanian menggoda anak gadis begitu pula sebaliknya serang gadis sudah mulai pasang aksi,senang berdandan dan bersolet secantik mungkin agar menarik simpati dari lawan jenisnya. Gejala yang seperti itu adalah wajar dan normal, tilmbulnya cinta kasih adalah fitrah bagi manusia.
Bagi para remaja boleh - boleh saja mempunyai cita-cita dan menjalani sebuah cinta untuk menggapai kehidupan yang lebih baik dan yang akan datang namun kesemuanya itu perlu kendali agar tidak melantur menjadi berbeda fungsi.
Sebagai remaja yang beragama dan beriman harus mempunyai idealisme, giat bekerja sesuai dengan kemampuan dan keterampilan yang dimilikinya. Merupakan salah satu jalan menuju tercapainya cita- cita. Selanjutnya ketika seorang remja menjalani cinta harus disertai dengan tuntunan ahlak dan pegangan agama yang kuat, sebab agama dan ahlak mulia sebagai kendali utama atau sebagai rem tangan agar tidak melampui batas dalam bergaul dengan lawan jenisnya,jika batasan dan aturan telah diterjang maka akan terjadi pergaulan bebes dalam bentuk Free sex , karena itu pembekalan ilmu agama melalui pendidikan agama dan ahlak mulia bagi seorang remaja sangat penting sebagai tameng agar tidak mudah terpengaruh oleh hal yang bersifat negatif yang dapat merusak diriny sendiri.

  1. PEMBATASAN MASALAH

Adapun masalah yg dibahas dalam makalah ini hanyalah beberapa hal yg menyangkut tentang peranan pendidikan agama disekolah terhadap kehidupan remaja.




BAB II
PEMBAHASAN


A.    Pendidikan Agama dan Ahlak Mulia
Secara umum masih jadi suatu pertanyaan tentang keberhasilan pendidikan agama disekolah. Dengan alasan masih sering terjadi tawuran antar siswa disekolah yang tidak jarang memakan korban, juga masih banyak pelanggaran susila serta tingginya prosentase pengguna obat terlarang dan minuman keras dikalangan anak sekolah,
Adapun peran lembaga pendidik dalam pembinaan akhlak mempunyai peran yang amat penting, pendidikan agama tidak hanya membina akhlak akan tetapi peran pendidikan agama tetang kecerdasan,keterampilan, dan pengetahuan selanjutnya bagaimanakah pengaruh sekolah dalam pendidikan ahklak ? semua unsur yang ada disekolah,baik secara langsung atau tidak langsung akan mempengaruhi pembinaan ahlak peserta didik. Tenaga pendidik dan non pendidik akan saling mempengaruhi satu sama lainnya disamping suasana sekolah kesemuanya itu mempunyai pengaruh dalam proses pembinaan ahlak peserta didik.
Dalam dunia pendidikan, pembentukan akhlak dititik beratkan kepada mental agar memiliki tanggung jawab.menurut ” Drs. AGUS SUYANTO ” Yang dimaksud dengan tanggung jawab,bahwa ia telah mengerti tentang perbedaan tentang benar dan salah selanjutnya teori ahlak dari ” IBNU MASKAWIH ” akan mampu menuntut anak remaja menjadi manusia dewasa dalam arti dewasa sosial, emosional dan intlektual kecerdasan tersebut dapat dilihat bahwa : ia menjadi seorang manusia yang yang berkemampuan sendiri, memikirkan berbagai persoalan,mengambil kesimpulan ,mengambil keputusan dan melaksanakan keputusan dengan bijaksana.

B. Peran Guru dalam Pembelajaran Agama
Pembelajaran Agama adalah salah satu kelompok mata pelajaran yang wajib diberikan. Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, atau moral sebagai perwujudan dari pendidikan agama. Dengan melihat tujuan pembelajaran agama tersebut, tampak jelaslah bagaimana seharusnya pembelajaran agama ini berperan. Memang tugas membentuk peserta didik tersebut bukan sekadar tanggung jawab guru agama di sekolah, melainkan seluruh guru memiliki peran yang sama pentingnya. Namun demikian, melalui pembelajaran agamalah yang lebih dekat dan mempunyai peran yang strategis.

Jika ditelusuri lebih dalam, setiap peserta didik sebenarnya telah memperoleh pembelajaran agama sejak duduk di bangku sekolah dasar. Bahkan hingga Perguruan Tinggi ada mata kuliah dasar umum berupa pendidikan agama. Akan tetapi, dampak atau pengaruh dari pembelajaran agama ini belum mampu menumbuhkan imunitas para peserta didik menghadapi tantangan dan ancaman yang ada.

 Pembelajaran dengan Pendekatan Contextual Teaching and Learning
Sering kali para guru agama mengeluhkan kurangnya jam agama dalam menyelesaikan materi kurikulum yang ditentukan. Yang terjadi kemudian adalah pembelajaran agama berusaha untuk menyuguhkan materi pembelajaran agar tuntas materinya sehingga tampak suguhan kognitif jauh lebih banyak mewarnai KBM agama. Mereka kemudian menginginkan penambahan jam pembelajaran agar lebih leluasa menyampaikan materi.
Sebenarnya seberapa banyak pun jam pembelajaran agama ditambah tidak akan menyelesaikan persoalan yang ada jika tidak dilakukan revitalisasi pembelajaran agama. Pembelajaran agama memerlukan suatu terobosan pendekatan pembelajaran yang efektif. Pembelajaran yang mempu menumbuhkan kebermaknaan dan menyenangkan. Bukan yang selama ini dilekatkan atribut pada pembelajaran agama : menjenuhkan dan tidak inovatif.
Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan sebuah sistem belajar yang didasarkan pada filosofi bahwa seorang pembelajara, peserta didik, akan mau dan mampu menyerap materi pelajaran jika mereka dapat menangkap makna dari pelajaran tersebut. Dalam buku Contextual Teaching and Learning : Menjadikan Kegiatan Belajar Mengajar Mengasyikkan dan Bermakna karya Elaine B. Jhonson yang diterjemahkan oleh Ibnu Setiawan, disebutkan bahwa CTL adalah sebuah sistem yang merangsang otak untuk menyusun pola-pola yang mewujudkan makna. CTL adalah suatu sistem pelajaran yang cocok dengan otak yang menghasilkan makna dengan menghubungkan muatan akademik dengan konteks dari kehidupan sehari-hari siswa.
 Para guru agama perlu memahami filosofi CTL ini dan menerapkannya dalam KBM di kelas agar agama tidak menjadi pelajaran menghafal dogmatis tanpa bersentuhan dengan konteks kehidupan siswa dan kebermaknaannya. Dalam pelajaran agama, anak memperoleh pengetahuan bahwa Allah SWT mewajibkan hamba-hamba-Nya untuk menjadikan kehidupannya sebagai ibadah kepada Allah SWT. Inilah tujuan penciptaan kehadiran manusia di dunia. Apakah tujuan ini dimaknai secara benar oleh siswa? Atau sekadar menghafal ayat bahwa hal itu ditemui dalam Al Quran Surat Adzariyat : 56?.


Para guru agama dalam penerapan CTL- diharuskan menghadirkan konteks pembelajaran, bukan sekadar isi pelajaran. Isi pelajaran merupakan sesuatu yang akan diperlajari berupa pengetahuan yang hampir tanpa batas dan semua guru agama mengetahui akan hal ini. Isi agar bermakna harus dipelajari dalam konteks. Adapun konteks dalam pemahaman CTL meliputi :
1. Lingkungan yaitu dunia luar yang dikomunikasikan melalui pancaindera
2. Kejadian-kejadian atau peristiwa yang terjadi di suatu tempat dan waktu
3. Asumsi-asumsi bawah sadar yang diserap selama siswa tumbuh, dari keyakinan yang dipegang kuat siswa yang diperoleh melalui nilai-nilai yang diterimanya
Pembelajaran isi agama agar relevan hendaknya memperhatikan keselarasan konteksnya. Ketika guru menyampaikan materi tentang beriman kepada Allah SWT, guru hendaknya mengajak siswa pada peristiwa kehidupan yang dapat diungkap oleh siswa, kejadian-kejadian yang menimpa manusia yang tidak beriman, dan kesadaran terhadap firman Allah yang ditulis dalam kitab suci-Nya. Jadi, guru tidak secara dogmatis menyampaikan ayat-ayat yang memerintahkan untuk beriman kepada Allah SWT. Adanya kesadaran setiap siswa untuk selalu beriman kepada Allah SWT hendaknya muncul dari siswa melalui serangkaian pengalaman belajarnya di kelas atau di luar kelas. Dengan begitu Insya Allah akan muncul kesadaran bahwa Allah mengawasinya, Allah akan meminta pertanggungjawaban setiap perbuatannya, dan seterusnya.
Agar guru selalu memelihara KBM-nya dalam genggaman CTL, guru perlu memastikan 8 prinsip CTL hadir dalam setiap KBM-nya,
1. membuat ketrkaitan-keterkaitan yang bermakna
2. melakukan pekerjaan yang berarti
3. melakukan pembelajaran yang diatur sendiri
4. bekerja sama
5. berpikir kritis dan kreatif
6. membantu individu untuk tumbuh dan berkembang
7. mencapai standar yang tinggi
8. menggunakan penilaian yang autentik
Jika hal tersebut dilakukan, pembelajaran akan menjadi mengalir dan bermakna. Nilai-nilai agama akan menjadi kebutuhan bukan kewajiban atau pemaksaan.
C.  Harapan terhadap Pendidikan Agama
Harapan undang –undang terhadap pendidikan agama yang tercermin dalam tujuan nasional pendidikan yang menegaskan bahwa tujuan nasional pendidikan indonesia adalah tercapainya kualitas manusia indonesia yang seutuhnya yang memiki 10 kreteria
 Beriman dan bertaqwa kepada tuhan yang maha esa
 Berbudi pekerti luhur
 Memiliki pengetahuan
 Memiliki keterampilan
 Memiliki kesehatan jasmani
 Memiliki kesehtan rohani
 Memiliki kepribadian yang mantap
 Memiliki kepribadian yang mandiri
 Memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan
 Memiliki rasa kebangsaan























BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN

Ahlak merupakan cerminan dari keadaan keimanan yang terpantul dalam dalam kehidupan sehari – hari, ” Ingat ! ” dalam mengejar cita –cita dan menjalani cinta jangan sampai melanggar aturan agama dan yang tidak kalah pentingnya jangan mencoba sesuatu suatu pekerjaan yang mengarah kepada hal yang bersifat negatif seperti : dalam dunia internet anda jangan coba – coba membuka citus porno,mencicipi minuman keras,menelan pil ectasy, mengisap ganja dan morpin yang katanya dapat menimbulkan ketengan bahkan dapat dijadikan sebagai pelarian dari segala problema yang dihadapi. Ingat iklan minyak kayu putih ” buat anak ko’ coba – coba .oleh karena itu bekalilah diri anda dengan ilmu agama dan ahlak mulia, karena agama dan ahlak merupakan cara yang sangat efektif dalam menyelamatkan diri dari kehancuran.

B.     KRITIK DAN SARAN

Kami menyadari bahwa dalam penulisan maupun penyusunan makalah ini terdapat banyak kesalahan dan kekurangan. Untuk itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca demi perbaikan makalah ini agar menjadi lebih baik lagi.
















DAFTAR PUSTAKA


1. Nasution, Andi Hakim .2002. Pendiddikan Agama dan Ahlak bagi Anak dan Remaja. Ciputat : Logos.
2. Sudarsono. 1989. Etika Islam Tentang Kenakalan Remaja. Jakarta : Ruhama
3. Kauma,Puad . 1999. Sensasi Remaja dimasa Puber. Jombang : Kalam Mulia
4. Darajat, Zakiah.Darajat .2000. Remaja Harapan dan Tantangan. Jakarta : Ruhama

6. http://nurulfikri.sch.id/index.php?option=com_content&view=article&id=156:pembelajaran-pendidikan-agama-yang-membentuk-kepribadian&catid=47:pendidikan&Itemid=137
Reaksi:

0 komentar:

Windows Live Messenger + Facebook